ABU MUSA JABIR BIN HAYYAN, bapak ilmu kimia


THE FATHER OF MODERN CHEMISTRY ABU MUSA JABIR BIN HAYYAN

        Nama lengkapnya Jabir bin Hayyan bin Abdullah Kufi yang biasa dipanggil Abu Musa dan dikenal dengan Shufi. Dilahirkan di desa Thus Khurasan kemudian tinggal di Kufah. Kapan ia lahir, tidak diketahui dengan pasti. Diperkirakan ia lahir tahun 721 M, dan meninggal pada tahun 815 M. Di kalangan ilmuan Barat, ia dikenal dengan nama Geber, yang berasal dari kata “ jabir”. Asal-usul kesukuan Jabir memang tak terungkap secara jelas. Satu versi menyebutkan, Jabir adalah seorang Arab. Namun, versi lain menyebutkan ahli kimia kesohor itu adalah orang Persia.
Dia menempuh pendidikan di bawah bimbingan dari dua gurunya yaitu Khalid bin yazid yaitu orang pertama yang berbicara ilmu kimia dan Imam Ja’far Shadiq yang dipanggil oleh Jabir dengan sebutan Sayyidi (tuanku).  Pada awalnya, dia menangani bidang obat-obatan di bawah dukungan Barmaki Vizir selama kekhalifahan Abbasiyah dari Harun al-Rasyid. Dia mengalami beberapa perubahan karena jatuhnya Barmaki dan ditempatkan dalam rumah penjara di Kuffah, hingga akhir hayatnya pada tahun 803 M. Pada awal karirnya dia berada di bawah kekuasaan Barmaki Vizir saat kekhalifahan Abbasiyah dari Harun al-Rasyid.
Dialah orang pertama kali menemukan campuran kimia antara berbagai misteri, misalnya arsenic (zirnikh), antimony (itsmid). Teori yang kuat menyatakan bahwa hal itu akan membentuk barang tambang geologis, yang dinamakan teori tambang air raksa. Di antara temuannya yang lain adalah campuran baja, pemakaian O2 dalam pembuatan kaca, dan lain-lain. Penemuannya telah dijadikan dasar oleh para ilmuwan Eropa pada abad pertengahan dalam menyingkap rahasia kimia. Dalam buku karangannya yang pertama, terdapat istilah-istilah kimia, seperti garam amoniak (milh al-nasyadir), alkalin (al-qilwiyat), alembic (al-imbid), baja (al-itsmid), dan lain-lain yang tercantum dalam dua bukunya, kitab Shina’ah al-kimiya’,dan kitab al-Sabi’in. . Jabir menekankan bahwa kuantitas zat berhubungan dengan reaksi kimia yang terjadi, sehingga dapat dianggap Jabir telah merintis ditemukannya hukum perbandingan tetap. Kontribusi lainnya antara lain dalam penyempurnaan proses kristalisasidistilasikalsinasisublimasi dan penguapan serta pengembangan instrumen untuk melakukan proses-proses tersebut.
Sebagai anak bungsu dalam keluarganya, dia sering dimanjakan oleh saudara-saudaranya yang lain. Meskipun demikian, Jabir lebih suka menyendiri sambil memperhatikan fenomena alam dari awal dan tentang dunia kehidupan. Dia sering meneliti ikan di sungai Hiri Rud, membuat penelitian ke hutan belantara di sekitar Tus serta kebun-kebun yang dipenuhi oleh tumbuhan dan binatang serta unggas.
Jabir tidak bosan-bosannya untuk bertanya kepada ayahnya mengenai apa yang tidak dia ketahuinya. Hayyan selalu memperhatikan kecerdasan dan rasa ingin tahu anaknya. Dia mengajarkan Jabir tentang beberapa rahsia alam sejak awal mengenai galian dan batuan. Hayyan bingung setelah besar nanti anaknya akan cenderung ke arah penelitian seperti ahli falsafah dan ahli kimia. Ia harus sabar menghadapi anaknya yang selalu ingin tahu itu.
Hayyan menjelaskan kepada Jabir tentang batuan seperti yang difahami oleh ahli falsafah dan selalu mengingatkan anaknya agar tidak menyia-nyiakan umurnya untuk mengkaji masalah ini. Sebaliknya dia menasihati anaknya agar mendalami dulu ilmu pengetahuan sejak awal dan matematik, kerana dengan mengetahui kedua ilmu ini kita bisa memperoleh masalah-masalah baru dalam ilmu kimia.
Pada zaman Kekuasaan Bani Umayyah yang terakhir iaitu pada zaman Marwan bin Muhammad, bintang kerajaan Umayyah hampir padam. Ketika itu Jabir telah berusia dua puluh tahun. Pergolakan untuk merebut kekuasaan politik semakin meruncing antara Bani Umayyah, Bani Hasyim, dan kubu Alawiyyah. Para ahli propaganda Bani Hasyim dan kubu Alawiyyah memasuki seluruh pelosok wilayah Iran, Fars, dan Iraq agar rakyat semuanya bersatu untuk memberi dukungan kepada Bani Hasyim dan Alawiyyah.
Kelemahan telah menjalar dalam urat nadi Bani Umayyah, penyakit tua telah menguasai insan yang telah lanjut usia juga bisa terjadi kepada umur kekuasaan. Penyakit tua ini juga menjalar dalam kerajaan Umayyah.
Hayyan bekerja keras untuk menolong Ahlul Bait, yaitu keturunan Rasulullah saw. dengan lidah dan pedangnya. Dia ikut berjuang bersama-sama pemimpinnya, Abu Muslim Khurasani. Demi tujuan ini, dia meninggalkan keluarganya berbulan-bulan lamanya, berkumpul bersama tokoh politik dan berperang bersama tentara. Begitulah keadaannya selama beberapa tahun.
Pada suatu hari, Jabir ingin mengangkat pedangnya dan keluar untuk menentang tentara Umayyah yang dipimpin Nasr bin Sayyar, tetapi dilarang oleh ayahnya. Hayyan berkata kepada anaknya, “Allah tidak menciptakan manusia sepertimu untuk berperang maupun untuk politik. Seorang ilmuwan itu seperti satu umat dengan sendirinya. Ilmuwan ialah pewaris para Nabi pada setiap zaman dan tempat. Sekarang, pergilah merantau ke barat, yaitu antara wilayah-wilayah Islam dan carilah ilmu. Tidak banyak ilmu yang ada di kawasan kita ini.”
Hayyan meninggalkan keluarganya sambil berjanji akan kembali lagi. Namun, Hayyan tidak kembali kerana dia mati syahid di medan pertempuran. Jabir mengikuti nasihat ayahnya untuk tidak berkecimpung di bidang politik atau berperang tetapi ia tekun mempelajari ilmu pengetahuan.
Ketika kerajaan Umayyah telah tamat riwayatnya dan tampuk kekuasaan dipegang oleh Khaifah Abbasiyyah pertama iaitu Abu al Abbas. Ibu kota kerajaan beralih dari Damsyik ke al Anbar, di sebelah barat sungai Furat (Efrat) yang terletak di timur laut Kufah, Iraq.
Wilayah-wilayah Iraq telah berikrar akan taat dan setia kepada khalifah yang baru. Pada waktu itu, usia Jabir sudah memasuki tiga puluh tahun. Waktu yang bersamaan dengan tahun ke-32 pada abad pertama Hijriah.                                                                                                                                                                                          
Jabir menyiapkan bekal untuk mengembara mencari ilmu. Dia membujuk ibunya agar menemaninya dalam pengembaraan itu. Saudara-saudaranya yang lain tinggal dengan kaum kerabat mereka dari Bani Azd di kampung Tus. Jabir juga membawa kitab-kitabnya dan menetap di Kufah dalam sebuah rumah yang terletak di lorong Bab ash Sham yang kemudian diberi nama Jalan Emas karena Jabir menetap di situ bertahun-tahun lamanya.
Kufah terletak di salah sebuah anak sungai Furat. Kufah mulai dibangun oleh Saad bin Abi Waqqas sebagai markas tentaranya. Setelah itu, Kufah menjadi ibu kota pemerintahan Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib. Tulisan Arab yang kini dikenal sebagai Khat Kufi berasal dari kota ini. Kota Kufah mempunyai iklim yang menarik. Institut ilmu Fiqih dan ilmu Bahasa di kota ini menyaingi institut dalam bidang serupa di kota Basrah.
Cukup lama Jabir menetap di Kufah. Tahun berganti tahun. Abu al Abbas wafat dan digantkan oleh Abu Ja’far al Mansyur.
Suatu hari Jabir sedang membaca dalam kamarnya sambil menulis hawamisyatau anotasi. Tiba-tiba ibunya masuk dan memperkenalkan seorang tamu yaitu Imam dan Faqih Ja’far ash Shadiq yang adalah sahabat ayahnya.
Imam Ja’far ash Shadiq bertanya kepada Jabir tentang apa yang dipelajarinya yang berhubungan dengan ilmu agama, kerana seorang ilmuwan itu harus memiliki nilai-nilai agama dan menguasai ilmu bahasa.
Imam Ja’far merasa gembira setelah Jabir memberitahu bahawa dia hafal Alquran, banyak hadis selain mengetahui nahwu dan sharaf serta fiqih dan bahasa.
Imam Ja’far berkata kepada Jabir, “Segala puji bagi Allah. Ingatlah selalu Jabir, bahwa bahasa seorang ilmuwan itu harus sesuai dengan maknanya. Dalam bidang ilmu, sepantasnya kata nama yang menunjukkan diri seorang hanya memberi arti seorang, bukan sebaliknya.”
Imam Ja’far mengajarkan Jabir ilmu kimia seperti yang terdapat pada orang Yunani, Mesir, Parsi, India dan Cina. Beliau juga mengatakan bagaimana ilmu-ilmu itu selalu berhubungan satu dengan lainnya.
Imam Ja’far ash Shadiq mengirimkan kitab Qaratis dari Madinah kepada Jabir. Jabir mengkaji buku ini dengan tekun sampai ia faham benar isi kitab tersebut. Ia mengkaji warisan ilmu para ilmuwan kimia terdahulu, termasuk ilmuwan Parsi dan Cina. Keahlian seni pertukangan dan pengobatan juga dipelajarinya.
Setelah sekian lama, Jabir menerima surat dari Imam Ja’far ash Shadiq yang ditulis sebelum beliau wafat. Dalam surat itu, Imam Ja’far ash Shadiq berkata kepada Jabir, “Wahai Jabir, seberat-berat kesalahan adalah orang yang suka mengurangi hak saudaranya. Siapa yang suka mengurangi hak saudaranya, maka Allah akan menimpakan kesusahan kepadanya. Jika iman kita mantap, kebakhilan pun hilang seperti tercabutnya bulu dari kulit. Jabir, sesudah memberikan hak keluargamau, janganlah kamu melebihkan seseorang dengan yang lainnya. Jika kamu berbuat begitu, niscaya kamu tergolong ke dalam orang yang sesat.”
“Jabir, terimalah murid-murid yang ingin mewarisi ilmu setelah kamu. Berkat bimbingan dan ajaranmu, mereka akan dapat memanfaatkan kitab-kitabmu yang sulit difahami. Ilmu yang utama ialah ilmu amal, kemudian barulah ilmu kitab.”
“Ujilah orang yang belajar denganmu, seperti kamu menguji benda dan unsur, kerana manusia itu bagaikan logam. Tidak seorangpun petani yang mau menanam pohon pada batu, maupun di tempat yang tandus.”
“Ketahuilah Jabir, ilmu itu bukanlah penghasilan orang perorangan atau seorang ilmuwan. Jangan hanya menetap di Kufah saja sampai kamu dimakan usia, seperti air yang akan menjadi keruh kerana disimpan terlalu lama. Ilmu itu ibarat serbuk bunga yang ditiup angin sampai ke mana-mana. Mengembaralah untuk mencari ilmu dan untuk menemukan para ahli. Jauhilah raja sekuat yang kamu mampu”
“Berhati-hatilah agar tidak seorangpun mencuri ilmu kamu untuk masalah-masalah mungkar. Jangan memberikan jalan untuknya mendapatkan rahasia yang terkandung di dalam kitab-kitabmu untuk tujuan jahat.”
“Tentukan apa yang kamu perlukan dalam ilmu kimia dan jangan terlalu jelas agar ilmuwan saja yang bisa memahami kamu, kerana hanya ilmuwan dan pakar yang mampu memahami rahasia pembuatan. Oleh sebab itu, mudahkanlah kaedah pemahaman dan pencernaan bagi para ilmuwan. Jangan biarkan bahasa menguasaimu tapi kuasailah bahasa itu. Jangan biarkan keterangan dan data membanjirimu tapi letakkan sesuatu itu pada tempatnya yang wajar.”
“Ketahuilah Jabir, bahwa ada orang yang menyalahgunakan ilmu sebagaimana orang yang menyalahgunakan agama. Jauhilah orang yang demikian, kerana dia akan merusak amalan ilmunya di hadapan manusia di dunia ini dan di hadapan Allah pada akhirat nanti.”
Jabir pindah ke Baghdad setelah Khalifah Mansur selesai membangun kota tersebut dan memindahkan semua pusat pemerintahan kerajaan dari kota Hasyimiyyah (al Anbar).
Istri Jabir menginginkan suaminya untuk mengajarkan anak-anak mereka rahasia ilmu kimia tetapi Jabir enggan melakukannya. Jabir berkata kepada isterinya, “Istriku, memang saya sangat menyayangi anak-anak kita, tetapi tidak seorang pun dari mereka yang berbakat menerima ilmu ini. Mereka tidak memiliki sifat keilmuan sejak dini, maupun kemauan yang gigih untuk menuntut ilmu. Walaupun dalam rumah ini banyak terdapat buku, tapi tidak seorang pun di antara mereka yang mengetahui ilmu sains atau matematika. Saya tidak menyalahkan mereka dengan kekurangannya. Setiap orang diciptakan oleh Allah untuk pekerjaan yang memang telah dimudahkan untuknya.”
Jabir menunjuk pada lampu yang tergantung di atas kepalanya, lantas ia berkata, “Cahaya lampu ini lebih lemah dari cahaya lampu yang tergantung di jendela-jendela istana Mansur dan istana Mahdi. Akal manusia, seperti lampu pelita, ada yang terang ada juga yang suram, dan ada yang di antara keduanya. Ilmu kimia tidak bisa dipikul amanahnya melainkan oleh orang yang berjiwa kuat dan bercita-cita tinggi. Siapa yang mencintai ilmu maka ilmu itu menjadi harta yang mulia pada dirinya.”
“Saya tidak mampu, bahkan guru yang lain juga tidak mampu untuk memberikan anak-anak kita gelas berisi ilmu untuk diminum. Bagaimanakah kita bisa membuka pikiran mereka untuk mempelajari ilmu yang banyak, sedangkan mereka sendiri tidak suka kepada ilmu, tidak seperti keinginan mereka akan kemewahan. Ilmu yang diberikan kepada orang tidak seperti air yang tumpah ke pasir. Ilmu itu ialah bencana bagi orang yang tidak sanggup mengamalkannya.”
Jabir bin Hayyan mengajarkan ilmu ukuran, kaedah-kaedah timbangan dan dimensi, dan apa pun ketika melakukan penelitian. Semua ini baru dipelajari di Eropa enam abad kemudian. Jabir juga mengajarkan bahwa setiap benda bisa terbakar, logam (yang keras) bisa dioksidakan dan terbuat dari bahan merkuri, sulfit atau garam galian (ini ialah pendapat Philogestin). Dunia mengenal pendapat ini seribu tahun setelah Jabir.
Dia juga mengajarkan yang berkenaan dengan teori kimia yang terjadi ketika pencantuman atom unsur-unsur yang saling bereaksi. Ini ialah pendapat yang dikatakan kembali oleh Dalton seribu tahun setelah Jabir.
Jabir juga mengajarkan bahwa ada kemungkinan dari segi teori untuk menukar logam-logam biasa dengan logam-logam yang mahal, dan sebaliknya. Pendapat yang dibuktikan keabsahannya pada kurun abad ke-20 dalam bidang fizik.
Jabir menciptakan batu kaustik (nitrat perak) untuk mengobati luka atau anggota tubuh yang rusak. Proses ini diketahui dan digunakan sampai sekarang. Kemudian beliau menciptakan tinta yang bersinar dari karat besi. Tinta ini berguna untuk membaca surat yang berharga atau surat-surat ketentaraan dalam peperangan pada waktu malam yang gelap tanpa harus memerlukan lampu. Kemudian beliau menciptakan cat yang memlihara pakaian dari kelembaban, cat yang menghindari pengoksidaan besi, dan cat yang membuat kayu api. Cat ini adalah titik awal ilmu perawatan dasar pada zaman sekarang.
Jabir menciptakan kertas anti api yang bisa digunakan untuk menulis dokumen berharga dan surat-surat penting. Setelah menemukan air perada serta air emas, Jabir menemukan air perah, unsur kalium, garam amonia, sulfit, merkuri, asid sulfurik, sulfat merkuri, oksida arsenik, karbonat plumbum, unsur antimoni, klorida merkuri, unsur natrium, lodit merkuri, dan minyak vitriol asli.
Sebelum itu, Jabir telah menemukan acid nitrik dan acid hidroklorit. Kedua acid (asam) ini telah memungkinkannya mendapatkan air perada. Jabir menciptakan penyulingan cuka (acid asetik) yang kini disebut khalik salji, proses pencelupan kain, untuk menyamak kuli, dan memisahkan perak dari emas dengan menggunakan acid nitrik.
Jabir menggunakan oksida magnesium untuk membuat kaca. Dia menguraikan proses kerja kimia sejak awal dengan baik sekali yaitu penguapan, pemisahan, penempatan. Jabir adalah orang pertama yang merintis proses peleburan dan pembentukan logam dengan menggunakan oksigen. Jabir menjelaskan tentang racun dan bagaimana membuang bisanya dengan menggunakan ilmu toksikologi.
Orang barat mengetahui penemuannya dari orang Arab sewaktu peperangan Andalusia, Syiria, dan Asia Kecil dari para pengembara dan pedagang yang menyeberangi Laut Mediterania. Orang Barat mulai menterjemahkan buku-buku Jabir ke bahsa latin menjelang abad ke-13 Masehi, yaitu empat abad setelah Jabir.
Di antara kitab yang paling terkenal ialah kitab al Khalis, kitab al Istitmam, kitab al Istifa, dan kitab at Taklis. Holmyard menyebutkan dalam bukunya al Kimiya ilal asr Daltun (Kimia hingga ke zaman Dalton) bahawa kitab-kitab karangan Jabir yang diterjemahkan ke bahasa Latin mempunyai pengaruh yang kuat terhadap perkembangan ilmu kimia di Eropah. Di zaman abad pertengahan belum ada kitab yang seperti kitab-kitab Jabir.
Dari bahasa Arab dan Latin, kitab-kitab Jabir diterjemahkan ke bahasa Eropa yang lain. Kitab ini menjadi dasar ilmu kimia di Eropa sampai penghujung abad ke-18 Masehi. Banyak penemuan orang barat yang dikaitkan dengan pendapat dan teori Jabir.
Banyak bab dalam buku-buku itu mengatakan tentang Jabir, di antaranya Kardan Fo, Holmyard, George Sarton, De Lacy O’Leary, dan Bartello. Paul Kraus menerbitkan sebuah buku tentang Jabir dalam dua jilid.
Di Paris, Holmyard menerbitkan hasil karya Jabir tentang ilmu kimia, anatara kitab-kitab Jabir dalam versi bahasa Arab yang awal telah hilang, tetapi terjemahan Latinnya masih ada. Ini juga dilakukan oleh Paul Kraus dalam bukunya al Mukhtar min Rasa’il Jabir (Koleksi pilihan dari risalah-risalah Jabir) yang dihasilkan di Kaherah.
Paul Kraus dan Holmyard berpendapat bahwa dalam mewarisi ilmu kimia Yunani dan Timur, Jabir bin Hayyan adalah ahli kimia yang paling banyak melakukan penelitian dan uji coba serta penyusunan, paling jauh dari sifat rahsia dan kiasan. Mereka juga berpendapat bahwa kebijaksanaan Jabir meninggalkan taraf kerja-kerja dalam makmal dan manjauhkan alam tahayul.
Oleh sebab itu, teori-teorinya menjadi jelas dan rapi. Disebabkan oleh analisisnya yang tajam dan tuntas. Jabir bin Hayyan meletakkan ilmu kimia di atas landasan yang mantap dan kuat.
Tokoh besar yang dikenal sebagai “The father of modern chemistry” ini ternyata tidak hanya ahli di bidang kimia, akan tetapi beliau juga ahli di bidang farmasi, fisika, filosofi dan astronomi. Jabir Ibnu Hayyan terbukti telah mampu mengubah persepsi tentang berbagai kejadian alam yang pada saat itu dianggap sebagai sesuatu yang tidak dapat diprediksi, menjadi suatu ilmu sains yang dapat dimengerti dan dipelajari oleh manusia.
Jabir Ibnu Hayyan-lah yang menemukan asam klorida, asam nitrat, asam sitrat, asam asetat, teknik destilasi dan teknik kristalisasi. Beliau juga yang menemukan larutan aqua regia (dengan menggabungkan asam klorida dan asam nitrat) untuk melarutkan emas. Penemuan-penemuannya di bidang kimia telah menjadi landasan dasar dalam berkembangnya ilmu kimia dan teknik kimia modern saat ini.
Jabir Ibnu Hayyan juga mampu mengaplikasikan pengetahuannya di bidang kimia kedalam proses pembuatan besi dan logam lainnya, serta pencegahan karat. Beliau adalah orang pertama yang mengaplikasikan penggunaan mangan dioksida pada pembuatan gelas kaca. Beliau juga orang pertama kali yang mencatat tentang pemanasan wine akan menimbulkan gas yang mudah terbakar. Hal inilah yang kemudian memberikan jalan bagi Al-Razi untuk menemukan etanol.
Semua penelitian Jabir tentang ilmu kimia ini ternyata diterjemahkan kedalam bahasa latin dan menjadi buku teks standar untuk para ahli kimia di Eropa saat ini. Beberapa diantaranya adalah kitab Al-Kimya yang diterjemahkan pada 1144 dan Al-Sab’een yang edisi terjemahanya terbit pada 1187. Beberapa tulisan Jabir juga diterjemahkan oleh Marcelin Berthelot ke dalam beberapa buku, yaitu Book of the kingdom, Book of the Balances, dan Book of Eastern Mercury.
Berikut urutan buku-buku karya Jabir Bin Hayyan :
  • Kitab Al-Kimya
  • Kitab Al-sab’een
  • Kitab Al-Rahmah
  • Kitab Al-Tajmi
  • Kitab Al-Zilaq Al-sharqi
  • Book Of The Kingdom
  • Book Of Eastern Mercury
  • Book Of Balance
Kemajuan pesat ilmu kimia berawal dari hasil kerja keras pakar kimia Muslim, yaitu Jabir bin Hayyan yang tenar dengan nama Geber di Eropa. Bahkan, seperti yang ditulis oleh Ibnu Khaldun dalam bukunya Tarikh Ibnu Khaldun I/695, Jabir Ibnu Hayyan pernah dinobatkan sebagai ilmuwan terbesar di semua masa. Para ilmuwan mengakui kapabilitasnya di bidang ilmu kimia, sampai-sampai ilmu kimia dinamakan ilmu Jabir. Namun pada saat ini ternyata ilmu kimia tetap saja disebut ilmu kimia. Dalam catatan sejarah, Jabir Ibnu Hayyan adalah orang yang pertama kali menemukan asam belerang, natrium karbonat, pottasium karbonat, dan sepuh. Zat-zat kimia ini sekarang sangat urgen, bahkan hampir menjadi salah satu dasar perkembangan peradaban pada abad 19 dan 20 di bidang kimia, farmasi, pertanian, dan lain lain.
Ilmuwan yang disebut sebagai Bapak Kimia Modern ini adalah peletak dasar metode ilmiah untuk penelitian eksperimental. Selain ia banyak mengarang buku di bidang ilmu kimia, beliau juga mengarang buku di bidang farmasi. Jabir telah menorehkan sederet karyanya kurang lebih dalam dua ratus (200) kitab. Sebanyak delapan puluh kitab yang ditulisnya mengkaji dan mengupas seluk-beluk ilmu kimia. Sebuah pencapaian yang terbilang amat prestisius. Sebanyak seratus dua belas (112) buku karya Jabir secara khusus ditulis untuk dipersembahkan kepada Barmakid selaku gurunya, yang juga pembantu atau wazir Khalifah Harun Ar- Rasyid. Buku-buku itu ditulis dalam bahasa Arab. Di antaranya, Sirr Al-Asrar (Rahasianya Rahasia), Al-Mawazin (Timbangan/Kesetimbangan), Al-Khawwash (Khasiat-Khasiat), dll. Sudah banyak bukunya yang diterjemakan dalam berbagai bahasa di Eropa dan menjadi literatur referensi selama beberapa abad di berbagai universitas di Eropa.
Pada abad pertengahan, orang-orang Barat mulai menerjemahkan karya-karya Jabir itu ke dalam bahasa Latin (Tabula Smaragdina). Dari ketujuh puluh kitab yang diterjemahkan itu, salah satu kitab Jabir yang terkenal adalah Kitab Az-Zuhra yang diterjemahkan menjadi Book of Venus dan Kitab Al-Ahjar yang dialih bahasakan menjadi Book of Stones. Sebanyak 10 buku lainnya yang ditulis oleh Jabir adalah kitab koreksi yang berisi klarifikasi mengenai para pakar kimia Yunani seperti Pythagoras, Socrates, Plato dan Aristoteles. Sisanya, kitab yang ditulis Jabir merupakan buku-buku keseimbangan. Dalam buku kelompok ini, Jabir melahirkan teori yang begitu terkenal, yakni ‘teori keseimbangan alam.’
Risalah-risalah karya Jabir yang secara khusus membahas ilmu kimia antara lain’ Kitab Al-Kimya dan Kitab As-Sab’in. Kitab penting itu juga sudah diterjemahkan ke bahasa Latin pada abad pertengahan. Kitab Al-Kimya menjadi sangat populer di Barat setelah diterjemahkan ke bahasa Inggris oleh Robert of Chester pada tahun 1144 M. Al-Kimya versi alih bahasa berjudul The Book Composition of Alchemy. Sedangkan Kitab Al-Sab’in diterjemkan oleh Gerard of Cremona.
Beberapa karya Jabir lainnya juga dialihbahasakan oleh Berthelot ke dalam bahasa Inggris, diantaranya; Book of Kingdom, Book of the Balances, serta Book of Eastern Mercur. Buku karya Jabir lainnya juga mendapat perhatian dari ilmuwan Inggris bernama Richard Russel.
Pada abad ke-17 M, Russel menerjemahkan buku yang ditulis Jabir ke dalam bahasa Inggris berjudul Sum of Perfection. Dalam buku itu, Russel memperkenalkan Jabir dengan nama Geber seorang pangeran Arab terkenal yang juga seorang filsuf. Sum of Perfection selama beberapa abad begitu populer dan berpengaruh. Buku itu telah mendorong terjadinya evolusi kimia modern. Begitu berpengaruhnya buku karya Jabir di Eropa dan Barat yang pada umumnya telah dibuktikan dengan munculnya beberapa istilah teknis yang ditemukan dalam kamus kimia Barat dan menjadi kosakata ilmiah yang sebelumnya digunakan Jabir seperti istilah ‘alkali.’
Sejarah telah membuktikan bahwa kontribusi Islam pada kemajuan ilmu pengetahuan di dunia modern menjadi fakta sejarah yang tidak terbantahkan. Bahkan bermula dari dunia Islamlah ilmu pengetahuan mengalami transmisi (penyebaran), diseminasi dan proliferasi (pengembangan) ke dunia Barat yang sebelumnya diliputi oleh masa ‘the Dark Ages’ mendorong munculnya zaman renaissance atau enlightenment (pencerahan) di Eropa. Melalui dunia Islam-lah mereka mendapat akses untuk mendalami dan mengembangkan ilmu pengetahuan modern.
 Menyimak betapa besar kontribusi Islam terhadap lahirnya peradaban Islam berskala dunia terutama dalam hal ilmu pengetahuan dan teknologi, sesungguhnya kemajuan yang dicapai Barat pada mulanya bersumber dari peradaban Islam. Dunia Barat sekarang sejatinya berterima kasih kepada umat Islam. Oleh karena itu, pada hari ini umat Islam perlu kembali menggelorakan semangat keilmuan para ilmuwan muslim atas sumbangsihnya yang amat besar bagi peradaban umat manusia di dunia dalam menyongsong kembali kejayaan Islam dan umatnya.
Wallahu a’lam bissawaf.




















DAFTAR PUSTAKA
Amin, Husayn Ahmad.2000. Seratus Tokoh Dalam Sejarah Islam, bandung :PT   Remaja Rosdakarya, Cetakan Ketujuh.                                                     Said,Muhammad.Tokoh-Tokoh Besar Islam Sepanjang Sejarah.Jakarta Timur : PT Pustaka Al-Kautsar. cetakan pertama.             
Triningsih,
MandaMila.2003.Cendekiawan Islam. Yogyakarta : PT “ Kota Kembang”.cetakan1.                                                                                                                                    
BUKU BIOGRAFI PARA ILMUAN ISLAM           
https://almachumi.wordpress.com/…in-hayyan-ahli-kimia-karya,diakses pada rabu, 16 maret 2016.








Komentar

Postingan populer dari blog ini

sel prokariotik dan sel eukariotik

Kewarganegaraan, Hak , dan Kewajibannya